Program Revitalisasi Pasar Tradisional Perlu Atau Tidak

Pasar merupakan sebuah tempat dimana bertemunya para pembeli dengan penjual, mereka pun akan melakukan transaksi jual beli barang maupun jasa setelah melalui proses tawar menawar. Definisi menurut ilmu ekonomi, pengertian dari pasar sebenarnya berkaitan dengan kegiatan yang terjadi di dalamnya dan bukanlah tempatnya itu sendiri. Ciri-ciri yang khas dari sebuah pasar ialah terjadinya kegiatan transaksi maupun jual beli barang atau jasa. Masyarakat datang ke pasar untuk belanja kebutuhan mereka dan tentunya dengan membawa sejumlah uang untuk dibayarkan saat telah mendapatkan barang yang diinginkan. Menurut Stanton, Pasar itu merupakan orang-orang yang memiliki keinginan dimana ingin merasa puas, lalu uang untuk digunakan berbelanja, serta kemauan untuk membelanjakan uang tersebut.

Jadi, dari semua pengertian tersebut ada beberapa faktor yang tentunya akan menunjang terjadinya pasar, yaitu: keinginan, daya beli, serta tingkah laku dalam melakukan pembelian. Pasar tradisional juga selama ini seringkali terkesan sebagai tempat yang kumuh, kotor, bau dan lain sebagainya dan hal tersebut tentu saja merupakan stigma buruk yang dimiliki oleh pasar. Tapi hingga saat ini masih banyak tempat yang mempunyai cukup pengunjung serta pembeli yang masih tetap setia belanja di pasar tradisional. Tentunya memang tak bisa dipungkiri jika ada banyak pasar tradisional juga yang semakin sepi pengunjung dan pembeli karena beralih ke pasar modern. Sebuah stigma yang telah melekat di diri pasar tradisional umumnya memang dilatarbelakangi oleh perilaku yang berasal dari pedagang pasar, pengunjung maupun pembeli serta pengelola pasar. Perilaku dari pedagang pasar, pengunjung ataupun pembeli yang negatif perlahan dan secara bertahap mulai dapat diperbaiki, meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama. Contoh revitalisasi pasar tradisional bisa dilihat di danamonpeduli

Melekatnya stigma yang buruk ini pada pasar tradisional, sebenarnya seringkali membuat sebagian dari pengunjungnya lebih memilih untuk mencari alternatif tempat belanja yang lain, seperti dengan mengalihkan tempat belanja mereka ke pedagang kaki lima ataupun pedagang keliling yang pastinya lebih mudah untuk dijangkau karena tidak perlu berjalan-jalan di dalam pasar. Kebanyakan dari para pengunjung yang bisa di bilang merupakan segmen yang berpendapatan menengah bawah ke atas biasanya akan beralih ke pasar modern, misalnya saja seperti pasar swalayan yang biasanya mereka lebih mementingkan kebersihan serta kenyamanan mereka sebagai dasar pertimbangan untuk beralih tempat belanja yang lain.

Dan juga seringkali ada kesan jika perilaku pedagang yang sebenarnya menjadi penyebab utama atas terjadinya kondisi yang ada di kebanyakan pasar tradisional yang mempunyai stigma yang buruk. Sebenarnya ada banyak penyebab yang biasanya melatarbelakangi kondisi tersebut. Kondisi tersebut di mulai dari keterbatasan jumlah tenaga serta kemampuan (kompetensi) antar individu tenaga pengelola. Selain itu, pemahaman mengenai aktivitas pengelolaan pasar serta perdagangan eceran (ritel) mutlak yang harus dimiliki oleh aparatur dinas yang ditugasi untuk membina pasar tradisional termasuk yang ada di dalam pasar tersebut. Dan juga dalam mulai merancang kebijakan pemerintah kabupaten/kota yang akan diterbitkan dalam Peraturan Daerah (PERDA) dan juga peraturan serta pedoman pelaksanaan harusnya didasarkan atas pemahaman mengenai pengelolaan (manajemen) pasar serta perdagangan eceran. Kemudian dalam pelaksanaannya, peraturan serta pedoman pelaksanaan yang akan dilakukan tersebut haruslah ditingkatkan hingga tingkat pengelola pasar pun tidak mengerti akan hal-hal yang mendasar mengenai pengelolaan pasar dan juga mengenai perdagangan eceran. Tentu saja untuk tingkat pemahamannya pun haruslah dimiliki oleh masing-masing aparatur tersebut meskipun berbeda-beda tergantung pada posisi serta sifat tugas yang dimiliki aparatur yang bersangkutan.